Kebijakan Trump Membuat Rupiah Menguat Hingga di Bawah 14 Ribu Per Dolar Amerika Serikat

Nilai tukar rupiah pada hari Kamis tanggal 12 September 2019 sudah berhasil menguat melewati batas dibawah Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat. Menguatnya mata uang rupiah di dukung oleh keputusan yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ia membuat keputusan untuk menunda kenaikan tarif impor pada produk – produk Tiongkok selama dua pekan belakangan ini.

Bloomberg mengutip bahwa, rupiah sudah melaju di angka 0,47% ke level Rp 13.994 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu kurs referensi dari Jakarta Interbank Sport Rate (JISDOR) menempatkan mata uang Indonesia di angka Rp 14.052 per dolar Amerik Serikat, angka ini menunjukan bahwa rupiah lebih menguat dibandingkan kemarin Rabu tangga 11 September 2019 yaitu Rp 14.063 per dolar Amerika Serikat.

Advertisement

Mata uang Asia lainnya seperti Tiongkok, Singapura, Thailand, Filipina, Hong Kong, Korea, dan India tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Namun hanya yen Jepang lah yang berakhir melemah di poin 0,03%.

Ibrahim dari PT Garuda Berjangka menilai, bahwa rupiah sudah berhasil menguat hingga bisa melewati Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat. Karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda kenaikan ia menunda kenaikan tarif untuk produk barang – barang dari Tiongkok.

Donald Trump memutuskan untuk menunda kenaikan tarif impor pada produkk dari Tiongkok sebesar US$ 250 miliar, seharusnya hal ini diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 2019 namum ditundah menjadi tanggal 15 Oktober 2019. Penundaan ini dilakukan oleh Presiden AS tak lama setelah negara Tiongkok membebaskan 16 produk yang dimiliki oleh Amerika Serikat dari kenaikan tarif.

Langkah ini membuat ketegangan antara kedua belah pihak antara Tiongkok dan Amerika Serikat mereda. Dan juga kedua negara besar ini akan kembali bertemu untuk melakukan negosiasi di Washington DC, Amerika Serikat.

Advertisement

Seiring dengan meredanya ketegangan yang terjadi antar dua negara besar ini, membuat perhatian pasar beralih kepada Bank Sentral Eropa European Central Bank (ECB). Mereka beralih karena ECB pada hari ini akan mengumumkan arah kebijakan moneter mereka.

Hal ini membuat investor berharap untuk menurunnya suku bunga pada pertemuan ECB hari ini. Karena penurunan kebijakan ini diharapkan dapat menopang negara yang perekonomiannya lemah dan lesu.

Advertisement

Sentimen pasar sekarang ini juga mengarah kepada pertemuan yang dilakukan oleh pihak ECB dengan Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dan juga pada Jepang Bank of Japan (BOJ) yang akan di adakan pada minggu depan.

Share This Story